Welkam Dring

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 12 November, 2016]

Sekitar dua belas tahun yang lampau, koran ini memuat tulisan saya berjudul “Pakai Kes apa Kad?” Di dalamnya, saya antara lain membahas kosa kata asing yang semakin sering masuk ke dalam Bahasa Indonesia. Judulnya sendiri merupakan pertanyaanyang dilontarkan seorang petugas hotel yang berniat bertanya apakah saya mau membayar pakai kes apa kad. Sesungguhnya, dibutuhkan beberapa saat dan bantuan dari sang istri sebelum orang kampung seperti saya mengerti bahwa kes itu adalah uang tunai, sedangkan kad adalah kartu. Ketika itu, situasinya saya anggap lucu dan geli. Kini, saya termasuk orang yang agak terperanjat menyadari bahwa kes sudah jadi lema resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru, walau masih ditandai cak (yaitu merupakan “kata ragam cakapan”). Kata lain, yang juga diberi label cak tapi tetap sudah masuh kamus akbar ini adalah skedul (daftar perincian waktu yang direncanakan; jadwal) dan kensel (hapus, batal, tunda).

Lanjut membaca

Penjara Hewan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 17 September, 2016]

Pada suatu hari Pak K mengikuti sebuah seminar kebahasaan di ibu kota. Setelah berjam-jam menyampaikan hal-hal menarik, sang pembawa acara mengajak semua peserta mencicipi jajan yang telah disiapkan sambilmeluruskan kaki sejenak. Pak K jadi merasa gimana gitu lho karena kedua kakinya teramputasi. Mau diluruskan bagaimana?

Lanjut membaca

Tamat

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 13 Agustus, 2016]

Terkadang pada halaman terakhir sebuah buku atau pada detik-detik terakhir sebuah film tertulis kata tamat, seolah-olah pembaca dan penonton tidak mengerti apa-apa sendiri kalau tidak diberi tahu. Meski mengandung unsur penghinaan, kata ini kelihatan sederhana dan mudah dimengerti. Buku atau film yang sedang kita nikmati ternyata sudah selesai atau habis, dan ucapan terima kasih barangkali kita layangkan kepada penulis atau sutradara.

Lanjut membaca

Keefektifan Bahasa

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 18 Juni 2016]

Sering dilontarkan, seolah-olah sampah (dan barangkali memang sampah, pembaca yang budiman), gagasan bahwa bahasa Indonesia ini kurang efektif. Tidak jarang pula, para pembela bahasa yang disisipkan istilah-istilah atau frase-frase berbahasa asing—terutama dari bahasa Inggris—yang mengedepankan ide ini. Menurut mereka, lebih efektif rental motor daripadamenyewanya atau dipersewakannya. Terkadang, kata mereka juga, istilah, frase, dan pembentukan kalimat dalam bahasa Indonesia jadi terlampau panjang dan bahkan rumit supaya dapat diberi penilaian ”kurang efektif”. Barangkali susah dipercaya, tapi golongan ini sesekali sampai menghitung jumlah huruf atau kata demi mencoba menggarisbawahi bahwa pendapat merekalah yang lebih afdal. Toh, reserved lebih sedikit jumlah hurufnya dibandingkan dengan sudah dipesan, tapi sama jumlahnya dengan terpesan.

Lanjut membaca

“Smörgåsbord” dan “Fartlek”

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 12 Maret 2016]

Swedia telah mengekspor sejumlah hasil karyanya ke Indonesia seperti mobil, barang elektronik, dan mebel. Kami juga mengekspor sejumlah ide dan pendapat, misalnya dalam bidang hak asasi manusia dan pengelolaan sampah. Namun, kami bukan bangsa yang banyak mengekspor kata atau ucapan, dan ini tentu antara lain terkait dengan ketidakberhasilan kami menggeluti dunia penjajahan dulu itu. Kami juga tidak banyak menghasilkan pemikir atau pemuka agama, misalnya, yang menyebarkan ide-idenya—dan, dengan demikian, bahasanya—ke mana-mana.

Lanjut membaca

Kera dan Monyet

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 13 Februari 2016]

Ketika media sosial dan media tradisional mulai dipadati oleh ulasan mengenai arti dan makna tahun baru Imlek, yaitu Tahun Monyet Api, saya hampir terselak. Rugi sekali kalau kopi Nusantara yang sudah dibawa jauh-jauh ke luar negeri disia-siakan begitu. Namun, mengapa nyaris keselak? Karena begitu ironis, pikir saya, bahwa tahun baru ini yang digambarkan dengan warna terang dan penuh percaya diri disebut Monyet Api.

Lanjut membaca

Bit Merah

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 21 November 2015]

Musim gugur di tanah air penulis sudah mendekati detik-detik terakhir tahun ini dan, dengan begitu, musim lomba lari pun bisa dinyatakan selesai. Sebagian orang akan berlari sepanjang musim dingin tanpa peduli akan salju atau suhu yang menyengat, dan sebagian lain baru akan mengeluarkan sepatu larinya kalau diiringi bunga-bunga yang mekar nanti. Yang pasti, di mana-mana akan diadakan lomba kalau musim semi telah tiba, seolah-olah kami harus bergegas-gegas berlari sebelum musim dingin tiba lagi.

Dengan musim lomba yang pendek, setiap pelari ingin berprestasi sebaik mungkin. Selain bersandar pada latihan yang teratur, ada pula yang bergantung pada macam-macam tumbuh- tumbuhan atau vitamin yang dipercaya dapat membantu dalam usaha lari ini. Salah satu tumbuh-tumbuhan yang sedang naik daun di lingkungan pelari akhir-akhir ini adalah Beta vulgaris yang merah. Konon, kandungan nitrat dalam sayur-sayuran ini dapat membantu tubuh menyerap oksigen, dan konon kaki para pelari akan lebih kuat sedikit.

Ketika saya mau menjelaskan hal ini kepada seorang kawan dari Indonesia, saya menyadari bahwa rupanya tak ada padanan dalam bahasa Indonesia untuk sayur lezat ini. Ini bukan hal yang aneh mengingat bahwa Beta vulgarisini tidak (setahu saya) dibudidayakan di Nusantara. Juga tidak dijual di pasar kumuh ataupun toko mengilat (setahu saya lagi). Ketika nama bahasa Inggrisnya disebut, yakni beetroot, sebagian orang tahu apa yang dimaksudkan. Namun, sebagian lain masih bergeleng-geleng. Untuk menghindari penggeleng-gelengan ini, orang Malaysia menciptakan padanan yang terasa lumayan pas, yakni ubi bit merah. Nah, setiap orang tahu ubi itu apa, yaitu sesuatu yang dapat dimakan yang tumbuh di dalam tanah. (Bagian atas tanah pun sering bisa dimakan.) Bit-nya orang Malaysia tentu saja penerjemahan langsung dari bahasa Inggrisnya beet. Apakah pas dan cocok? Setidaknya lebih baik daripada tidak ada padanan sama sekali.

Dalam bahasa Indonesia, di lain pihak, bit berarti ’satuan informasi terkecil dl sistem informasi’, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Anehnya, pas di bawah lema bit dalam kamus akbar ini terdapat lema bitgula yang artinya tidak lain selain ‘tanaman daratan tinggi yang dibudidayakan karena umbi akarnya memiliki kadar gula yang tinggi untuk dibuat gula’. Ini tentu saja saudaranya si ubi bit merah yang dalam bahasa Inggris disebutsugar beet.

Orang Malaysia, di pihak lain, sepertinya sering memanggil sayuran ini dengan sebutan akar manis. Saya juga melihat bit gula dalam tulisan berbahasa Malaysia, tapi tentu saja ditulis secara terpisah. Bitgula-nya KBBI (hanya satu kata yang tidak terpisah) terasa cukup aneh, dan asal-usul katanya jadi susah ditebak atau dipahami. Juga, orang boleh bertanya-tanya, mengapa tidak ada bitmerah, kalau ada bitgulaUbi ada banyak dalam bahasa Indonesia, termasuk ubi belanda (yakni kentang), tapi saya tidak menemukan ubi yang merupakan padanan bagi Beta vulgaris yang merah (rödbeta dalam bahasa Swedia, bagi yang tertarik).

Terus bagaimana? Pertama, mulai sekarang saya akan memasukkan lema (ubi) bit merah dan (ubi) bit gula dalam kamus mental saya karena akan cukup berguna dalam kehidupan sehari-hari di mana kedua sayur-sayuran ini dibudidayakan. Kedua, saya sekarang tidak berani tidak mengonsumsi bit merah ini sebelum lomba lari, tapi kalau ada efek atau hasil yang dicari, ya masih dapat diragukan. Ketiga, bayam sepertinya adalah substitut yang baik bagi pelari Nusantara.

Berapa umat?

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 13 Juni 2015]

Belum lama ini, koran yang Anda pegang sekarang mewartakan bahwa “20.000 umat Buddha Hadiri Perayaan Waisak di Candi Borobudur” (1 Juni, 2015). Sehari setelah itu, diberitakan juga bahwa “Jokowi Rayakan Waisak Bersama 20.000 umat Buddha di Borobudur”. Membaca berita ini, saya agak kaget. Memang, Borobudur nan ajaib dan menawan itu cukup besar dan luas, tapi apakah benar sebanyak umat itu bisa mengumpul di tempat yang sama? Dan apakah ada sebanyak umat itu?

Lanjut membaca

Pentil

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 9 Mei 2015]

Asyiknya menggunakan dan mempelajari bahasa memuncak ketika kita menyadari bahwa bahasa itu sesekali membingungkan dan tidak selalu menari menurut kaidah-kaidah yang kita duga berlaku. Salah satu kata yang bisa membuat kita mengangkat alis terheran-heran adalah pentil. Kata itu sendiri tidak garib, dan memiliki arti berikut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat: alat terbuat dari karet tempat memasukkan udara (gas) ke dalam ban (bola dsb) dan menahan udara (gas) yang sudah masuk.

Lanjut membaca

Swafoto dan Dirian

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 20 Desember 2014.]

Jikalau pembaca yang budiman berkunjung ke Borobodur atau Prambanan sepuluh tahun yang lalu, pembaca bakal melihat wisatawan yang sibuk mencermati relief-relief kuno dan dengan teliti mendengarkan ilmu dan pengetahuan yang keluar dari mulut-mulut para pemandu, guru dan mahaguru. Rasa ketakjuban mengalami secara langsung kedua keajaiban kebudayaan Nusantara ini terasa sangat kental. Ada rasa bangga bercampur dengan keheranan. Tercenganglah, para wisatawan tadi. Dan wajarlah, hal tersebut.

Lanjut membaca