Permainan Olimpis

Dikirim pada 5 Maret 2010 | 1 tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 5 Maret 2010.]

Baru setelah Swedia mengantongi tiga medali emas di Vancouver, saya memberanikan diri merenungkan kata Olimpiade. Kata yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia selalu diawali dengan huruf besar ini berarti ”pertandingan olahraga antarbangsa yang diadakan setiap empat tahun sekali di negeri yang berlainan” atau ”festival kuno bangsa Yunani yang diadakan empat tahun sekali untuk menghormati dewa Zeus”. Memang dalam pemahaman ini kita biasanya mendengar dan menggunakan kata Olimpiade. Apakah penggunaan itu tepat?

Baca seluruh tulisan

Susahnya Beli Rumah

Dikirim pada 20 Februari 2010 | 1 tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 12 Februari 2010.]

Ketika musim gugur berubah menjadi musim dingin dan matahari nyaris tak kuat mengangkat diri ke atas cakrawala, tak aneh bila penghuni negeri dingin dan gelap ini kadang-kadang bermimpi tentang tanah tropis Indonesia yang memesona jauh di sana. Untuk menghibur diri sendiri, saya akhir-akhir ini cukup sering menjelajahi internet guna mencari iklan properti. Lebih ringan rasanya bermimpi mengenai tempat tinggal baru di Indonesia daripada menghadapi tanah tertutupi salju di Swedia. Nah, iklan properti ini juga menarik dari segi bahasa dan menghadirkan sejumlah kendala bagi para calon pembeli.

Baca seluruh tulisan

Pak Di Sini

Dikirim pada 23 Oktober 2009 | 1 tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 23 Oktober 2009.]

Di mana tinggal Pak Di Sini? Pertanyaan ini saya ajukan karena ada keinginan mendalam berjabat tangan dengan orang yang agaknya amat rajin, berhasil, dan siap turun tangan di mana-mana.

Baca seluruh tulisan

Undang-Undang Bahasa

Dikirim pada 25 September 2009 | 6 tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 25 September 2009.]

Sejak 9 Juli 2009 keberadaan dan penggunaan bahasa Indonesia sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang ”Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan”. (Penggunaan kata sambung dalam judul undang-undang itu sendiri mungkin bisa dibahas pada kesempatan lain.) Undang-undang ini, yang antara lain berdasarkan niat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara, menjaga kehormatan dan menunjukkan kedaulatan bangsa dan negara, serta menciptakan ketertiban, kepastian, dan standardisasi penggunaan bahasa, saya kira patut kita sambut dengan gembira dan semangat. Bahasa Indonesia dalam undang-undang ini disebut berfungsi sebagai jati diri bangsa dan kebanggaan nasional; juga dikukuhkan sebagai bahasa resmi NKRI.

Baca seluruh tulisan

Mewajibkan Bahasa Daerah

Dikirim pada 21 Agustus 2009 | Belum ada tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 21 Agustus 2009.]

Seperti diberitakan sejumlah media massa belum lama ini, Sultan Hamengku Buwono X bertekad mewajibkan setiap pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta kabupaten/kota berbahasa Jawa saban Sabtu dalam aktivitas kerja. Alasannya tak lain selain mencoba melestarikan bahasa dan budaya Jawa yang dinilai banyak dipengaruhi bahasa dan budaya nir-Jawa. Niat ini barangkali patut diacungi jempol, tetapi tak susah juga melihat awan gelap yang mengancam kecerahan langit sehubungan dengannya.

Baca seluruh tulisan

Untung Gundul

Dikirim pada 24 Juli 2009 | 1 tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 24 Juli 2009.]

Terkadang saya bersyukur tak punya rambut di kepala. Selain tak perlu bingung menyisir helai-helai berhamburan, saya juga tak usah susah-payah mendengarkan omongan pemotong rambut yang terkesan dipaksa-paksa itu. Namun, alasan utama saya mensyukuri kebotakan saya ini: sukar mendapatkan sampo di Indonesia saat ini. Hampir mustahil sekarang memperoleh sampo. Yang ada hanya schampoo.

Baca seluruh tulisan

Ihwal KBBI Edisi Keempat

Dikirim pada 3 Juli 2009 | Belum ada tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 3 Juli 2009.]

Setiba di rumah mertua di Blora beberapa saat lalu, ada hadiah berat yang menunggu saya: Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru. Kamus yang terdiri atas lebih dari 1.700 halaman ini sudah barang tentu menarik perhatian pakar bahasa di Indonesia. Telah diadakan pula sejumlah seminar dan sudah ditulis sejumlah makalah yang membahasnya dari pelbagai sudut. Tak jarang, sebagian dari pembahasan ini merupakan keluhan, entah itu keluhan atas kualitas kertas (yang lebih bagus daripada edisi-edisi terdahulu), harga (yang sering kali dinilai terlalu tinggi), entah penjelasan yang diberikan pada kata-kata tertentu. Sebagian orang merasa ada kata-kata dalam khazanah kebahasaan Nusantara yang belum masuk ke dalam kamus yang terdiri atas lebih dari 90.000 lema dan sublema ini.

Baca seluruh tulisan

Salah Satu Rumah Menangis

Dikirim pada 14 November 2008 | Belum ada tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 14 November 2008.]

Di koran Kompas edisi ”daring” (dalam jaringan), kalimat seperti ini dapat dibaca beberapa jam menjelang pemilihan umum Amerika Serikat: ”Rumah yang pernah ditempati oleh salah satu calon presiden AS, Barrack Obama di kawasan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat sedang berduka.” Ini kalimat pertama dalam suatu artikel. Tak jarang pembaca tak sempat membaca semua artikel di koran dan, karena itu, ia merasa cukup hanya membaca judul berita dan satu atau dua kalimat pertama.

Baca seluruh tulisan

Dia dan Ia

Dikirim pada 9 Mei 2008 | Belum ada tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 9 Mei 2008.]

Saya baru saja menyadari bahwa terdapat hasrat di antara sebagian penulis Indonesia untuk membedakan kata dia dan ia berdasarkan jender. Usul mereka: dia dipakai untuk lelaki dan ia untuk perempuan. Bisa juga ia dipakai untuk barang mati dan dia untuk orang (dan hewan?). Konon pembedaan ini akan sangat baik, membantu, dan tentu saja akan meniru banyak bahasa Barat dan bahasa Arab yang memiliki dua—atau lebih—kata untuk sebutan orang ketiga.

Baca seluruh tulisan

Merenungkan Ihwal Nada

Dikirim pada 2 November 2007 | Belum ada tanggapan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 2 November 2007.]

Ketika sedang sungguh bosan di kantor, saya sering kali membuka laman web Radio Republik Indonesia. Di sana terkadang dapat didengarkan siaran langsung dari Indonesia dan, jika bisa, rasa lelah lekas sirna. Bukannya karena acara-acara RRI terkenal lucu, tapi karena cara para pembawa acara berbahasa terasa cukup mengherankan. Inti dari keheranan ini adalah nada-nada mereka.

Baca seluruh tulisan

older posts »

bahasa.dalang.se is proudly powered by WordPress and the SubtleFlux theme.

Copyright © bahasa.dalang.se.