Lari dan Kawan-kawan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 28 Oktober, 2017]

Besok pagi, Mandiri Jakarta Marathon (MJM) akan digelar untuk kali kelima. Ribuan pelari dari sejumlah negara akan berkeringatan di jalan-jalan ibu kota, dengan niat menaklukkan jarak yang klasik ini: 42,2 km. Kata maraton sendiri sudah saya bahas secara singkat pada kesempatan yang lain di koran ini (3 Mei, 2014). Jadi di bawah ini saya hanya akan fokus pada kata lari dan beberapa bentuk yang dapat diciptakan darinya.

Lanjut membaca

Piknik

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 5 Agustus, 2017]

Tidak jarang akhir-akhir ini, saya menemukan kata piknik di Indonesia. Mungkin dari dulu memang sudah lazim dipakai, hanya saya saja yang kurang memperhatikannya. Karena juga terdapat dalam bahasa Swedia (dalam bentuk picknick), kata ini tidak terasa asing bagi saya, malah sebaliknya. Namun, cara pemakaiannya di Indonesia agak berbeda dengan pemakaian di tempat-tempat lain.

Lanjut membaca

NYIA

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 15 Juli, 2017]

Bandar-bandar udara di Indonesia sering diberi nama yang mencerminkan- atau setidaknya mengingatkan tentang- sejarah, budaya atau keajaiban alam setempat. Sebut saja Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo dan Bandar Udara Internasional Minangkabau di Padang. Bandara paling ramai di Indonesia pun memiliki nama dengan makna bersejarah dan nasionalis (Soekarno-Hatta), dan orang-orang Yogyakarta pun tidak mau kalah dengan memberikan nama seorang pahlawan nasional kepada bandara mereka (Adisutjipto).

Lanjut membaca

Secara Terpisah

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 27 Mei, 2017]

Ketika saya membaca koran berbahasa Indonesia atau menonton TV Indonesia (mengapa RRI masih begitu susah disimak secara daring?), saya sering mendengar istilah secara terpisah. Biasanya si wartawan menghubungi seorang pakar dan setelah itu secara terpisah ia menghubungi seorang pakar lain yang mendukung ataupun membantah pendapat pakar pertama. Bisa juga, pakar pertama menyatakan sesuatu, dan secara terpisah pakar kedua menyatakan hal yang sama ataupun hal terbalik. Menurut saya, istilah secara terpisah ini memiliki dua masalah: secara dan terpisah.

Lanjut membaca

Welkam Dring

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 12 November, 2016]

Sekitar dua belas tahun yang lampau, koran ini memuat tulisan saya berjudul “Pakai Kes apa Kad?” Di dalamnya, saya antara lain membahas kosa kata asing yang semakin sering masuk ke dalam Bahasa Indonesia. Judulnya sendiri merupakan pertanyaanyang dilontarkan seorang petugas hotel yang berniat bertanya apakah saya mau membayar pakai kes apa kad. Sesungguhnya, dibutuhkan beberapa saat dan bantuan dari sang istri sebelum orang kampung seperti saya mengerti bahwa kes itu adalah uang tunai, sedangkan kad adalah kartu. Ketika itu, situasinya saya anggap lucu dan geli. Kini, saya termasuk orang yang agak terperanjat menyadari bahwa kes sudah jadi lema resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru, walau masih ditandai cak (yaitu merupakan “kata ragam cakapan”). Kata lain, yang juga diberi label cak tapi tetap sudah masuh kamus akbar ini adalah skedul (daftar perincian waktu yang direncanakan; jadwal) dan kensel (hapus, batal, tunda).

Lanjut membaca

Penjara Hewan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 17 September, 2016]

Pada suatu hari Pak K mengikuti sebuah seminar kebahasaan di ibu kota. Setelah berjam-jam menyampaikan hal-hal menarik, sang pembawa acara mengajak semua peserta mencicipi jajan yang telah disiapkan sambilmeluruskan kaki sejenak. Pak K jadi merasa gimana gitu lho karena kedua kakinya teramputasi. Mau diluruskan bagaimana?

Lanjut membaca

Tamat

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 13 Agustus, 2016]

Terkadang pada halaman terakhir sebuah buku atau pada detik-detik terakhir sebuah film tertulis kata tamat, seolah-olah pembaca dan penonton tidak mengerti apa-apa sendiri kalau tidak diberi tahu. Meski mengandung unsur penghinaan, kata ini kelihatan sederhana dan mudah dimengerti. Buku atau film yang sedang kita nikmati ternyata sudah selesai atau habis, dan ucapan terima kasih barangkali kita layangkan kepada penulis atau sutradara.

Lanjut membaca

Keefektifan Bahasa

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 18 Juni 2016]

Sering dilontarkan, seolah-olah sampah (dan barangkali memang sampah, pembaca yang budiman), gagasan bahwa bahasa Indonesia ini kurang efektif. Tidak jarang pula, para pembela bahasa yang disisipkan istilah-istilah atau frase-frase berbahasa asing—terutama dari bahasa Inggris—yang mengedepankan ide ini. Menurut mereka, lebih efektif rental motor daripadamenyewanya atau dipersewakannya. Terkadang, kata mereka juga, istilah, frase, dan pembentukan kalimat dalam bahasa Indonesia jadi terlampau panjang dan bahkan rumit supaya dapat diberi penilaian ”kurang efektif”. Barangkali susah dipercaya, tapi golongan ini sesekali sampai menghitung jumlah huruf atau kata demi mencoba menggarisbawahi bahwa pendapat merekalah yang lebih afdal. Toh, reserved lebih sedikit jumlah hurufnya dibandingkan dengan sudah dipesan, tapi sama jumlahnya dengan terpesan.

Lanjut membaca

“Smörgåsbord” dan “Fartlek”

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 12 Maret 2016]

Swedia telah mengekspor sejumlah hasil karyanya ke Indonesia seperti mobil, barang elektronik, dan mebel. Kami juga mengekspor sejumlah ide dan pendapat, misalnya dalam bidang hak asasi manusia dan pengelolaan sampah. Namun, kami bukan bangsa yang banyak mengekspor kata atau ucapan, dan ini tentu antara lain terkait dengan ketidakberhasilan kami menggeluti dunia penjajahan dulu itu. Kami juga tidak banyak menghasilkan pemikir atau pemuka agama, misalnya, yang menyebarkan ide-idenya—dan, dengan demikian, bahasanya—ke mana-mana.

Lanjut membaca

Kera dan Monyet

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 13 Februari 2016]

Ketika media sosial dan media tradisional mulai dipadati oleh ulasan mengenai arti dan makna tahun baru Imlek, yaitu Tahun Monyet Api, saya hampir terselak. Rugi sekali kalau kopi Nusantara yang sudah dibawa jauh-jauh ke luar negeri disia-siakan begitu. Namun, mengapa nyaris keselak? Karena begitu ironis, pikir saya, bahwa tahun baru ini yang digambarkan dengan warna terang dan penuh percaya diri disebut Monyet Api.

Lanjut membaca