Anjing Tanah, Anjing Bentala

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 24 Maret, 2018]

Beberapa waktu yang lalu, sebagian orang Indonesia kembali merayakan Tahun Baru Imlek. Media, rumah makan dan pusat perbelanjaan pun tentu saja ikut heboh guna ikut meraih keberuntungan, seperti pada perayaan-perayaan yang lain. Mengingat perayaan Imlek secara terbuka baru diperbolehkan kembali pada waktu Gus Dur menjabat sebagai Presiden, dan baru dikukuhkan sebagai hari libur nasional di bawah kepemimpinan Megawati, maka kenyataan bahwa Imlek semakin hadir di Indonesia adalah hal yang baik. Bahkan, bahwasanya perayaan ini diperbolehkan kembali saja patut dirayakan, seperti semacam kemenangan bagi pemahaman pluralis. Yang keberatan ikut merayakannya karena kuatir dicap macam-macam, saran saya bagi mereka adalah ikut makan-makan saja. Toh, tidak pernah ada salahanya.

Lanjut membaca

Kasar atau (Sok) Akrab?

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 13 Januari, 2018]

Ketika saya mulai belajar Bahasa Indonesia, disampaikan bahwa kamu hanya bisa dipakai dengan kerabat atau saudara yang amat dekat atau dengan anak kecil. Segala penggunaan yang lain dianggap kurang sopan, dan dengan jelas akan memperlihatkan kenyataan bahwa kami, para pelajar, belum memahami bahasa asing ini. Kami disuruh memakai kata Anda atau kata panggilan yang tepat, seperti mbak, mas, bu, pak, dan seterusnya. Kalau kita berkonsultasi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ajaran ini sepertinya bisa dikatakan tepat. Kamu diartikan sebagai ‘yang diajak bicara; yang disapa (dalam ragam akrab atau kasar)’. Bagian terakhir ini yang penting: akrab atau kasar. Anda, di lain pihak, diartikan KBBI sebagai ‘sapaan untuk orang yang diajak berbicara atau berkomunikasi (tidak membedakan tingkat, kedudukan, dan umur)’. Dengan demikian, lebih amanlah memakai kata Anda.

Lanjut membaca

Magnitudo

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 23 Desember, 2017]

Mengingat posisi geografis Indonesia, tidaklah mengherankan sering terjadi gempa bumi yang menggoyahkan tanah dan ketenangan batin dari Sabang sampai Merauke. Kekuatan fenomena alami ini pada umumnya dijelaskan dengan dibantu oleh skala Richter (SR), walaupun terdapat beberapa sistem lain juga yang terkadang dinilai lebih pas dipakai. Skala Richter ini dikembangkan oleh Charles Richter dan Beno Gutenberg pada 1935 di California, Amerika Serikat.

Lanjut membaca

I Lovina You

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 18 November, 2017]

Masyarakat Perancis terkenal bangga akan bahasa nasionalnya. Beberapa dasawarsa yang lalu wisatawan yang menyampaikan sesuatu dalam bahasa Inggris bakal diabaikan dan disurami, dan yang kurang fasih berbahasa Perancis dianggap kurang beradab. Zaman kini, hal ini sudah agak berubah, tapi masalah bahasa tetap sensitif di negeri bermenara Eifel ini. Beberapa tahun yang lalu hal ini diaktualisasikan di Kota Loches.

Lanjut membaca

Lari dan Kawan-kawan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 28 Oktober, 2017]

Besok pagi, Mandiri Jakarta Marathon (MJM) akan digelar untuk kali kelima. Ribuan pelari dari sejumlah negara akan berkeringatan di jalan-jalan ibu kota, dengan niat menaklukkan jarak yang klasik ini: 42,2 km. Kata maraton sendiri sudah saya bahas secara singkat pada kesempatan yang lain di koran ini (3 Mei, 2014). Jadi di bawah ini saya hanya akan fokus pada kata lari dan beberapa bentuk yang dapat diciptakan darinya.

Lanjut membaca

Piknik

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 5 Agustus, 2017]

Tidak jarang akhir-akhir ini, saya menemukan kata piknik di Indonesia. Mungkin dari dulu memang sudah lazim dipakai, hanya saya saja yang kurang memperhatikannya. Karena juga terdapat dalam bahasa Swedia (dalam bentuk picknick), kata ini tidak terasa asing bagi saya, malah sebaliknya. Namun, cara pemakaiannya di Indonesia agak berbeda dengan pemakaian di tempat-tempat lain.

Lanjut membaca

NYIA

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 15 Juli, 2017]

Bandar-bandar udara di Indonesia sering diberi nama yang mencerminkan- atau setidaknya mengingatkan tentang- sejarah, budaya atau keajaiban alam setempat. Sebut saja Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo dan Bandar Udara Internasional Minangkabau di Padang. Bandara paling ramai di Indonesia pun memiliki nama dengan makna bersejarah dan nasionalis (Soekarno-Hatta), dan orang-orang Yogyakarta pun tidak mau kalah dengan memberikan nama seorang pahlawan nasional kepada bandara mereka (Adisutjipto).

Lanjut membaca

Secara Terpisah

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 27 Mei, 2017]

Ketika saya membaca koran berbahasa Indonesia atau menonton TV Indonesia (mengapa RRI masih begitu susah disimak secara daring?), saya sering mendengar istilah secara terpisah. Biasanya si wartawan menghubungi seorang pakar dan setelah itu secara terpisah ia menghubungi seorang pakar lain yang mendukung ataupun membantah pendapat pakar pertama. Bisa juga, pakar pertama menyatakan sesuatu, dan secara terpisah pakar kedua menyatakan hal yang sama ataupun hal terbalik. Menurut saya, istilah secara terpisah ini memiliki dua masalah: secara dan terpisah.

Lanjut membaca

Welkam Dring

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 12 November, 2016]

Sekitar dua belas tahun yang lampau, koran ini memuat tulisan saya berjudul “Pakai Kes apa Kad?” Di dalamnya, saya antara lain membahas kosa kata asing yang semakin sering masuk ke dalam Bahasa Indonesia. Judulnya sendiri merupakan pertanyaanyang dilontarkan seorang petugas hotel yang berniat bertanya apakah saya mau membayar pakai kes apa kad. Sesungguhnya, dibutuhkan beberapa saat dan bantuan dari sang istri sebelum orang kampung seperti saya mengerti bahwa kes itu adalah uang tunai, sedangkan kad adalah kartu. Ketika itu, situasinya saya anggap lucu dan geli. Kini, saya termasuk orang yang agak terperanjat menyadari bahwa kes sudah jadi lema resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru, walau masih ditandai cak (yaitu merupakan “kata ragam cakapan”). Kata lain, yang juga diberi label cak tapi tetap sudah masuh kamus akbar ini adalah skedul (daftar perincian waktu yang direncanakan; jadwal) dan kensel (hapus, batal, tunda).

Lanjut membaca

Penjara Hewan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 17 September, 2016]

Pada suatu hari Pak K mengikuti sebuah seminar kebahasaan di ibu kota. Setelah berjam-jam menyampaikan hal-hal menarik, sang pembawa acara mengajak semua peserta mencicipi jajan yang telah disiapkan sambilmeluruskan kaki sejenak. Pak K jadi merasa gimana gitu lho karena kedua kakinya teramputasi. Mau diluruskan bagaimana?

Lanjut membaca