NYIA

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 15 Juli, 2017]

Bandar-bandar udara di Indonesia sering diberi nama yang mencerminkan- atau setidaknya mengingatkan tentang- sejarah, budaya atau keajaiban alam setempat. Sebut saja Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo dan Bandar Udara Internasional Minangkabau di Padang. Bandara paling ramai di Indonesia pun memiliki nama dengan makna bersejarah dan nasionalis (Soekarno-Hatta), dan orang-orang Yogyakarta pun tidak mau kalah dengan memberikan nama seorang pahlawan nasional kepada bandara mereka (Adisutjipto).

Dengan semakin meningkatnya daya masyarakat untuk menggunakan transportasi udara, tidak mengherankan sebagian bandar udara ini sudah mulai terasa sumpek gara-gara kebanjiran pengunjung dalam jumlah yang susah dibayangkan waktu bandara-bandara tersebut didirikan. Salah satu contohnya adalah bandara yang terletak di sebelah timur Yogyakarta, yang dalam namanya mengenang jasa-jasa pahlawan nasional Augustinus Adisoetjipto. Nama resmi bandara ini menyesuaikan diri dengan Ejaan Suwandi (yakni oe jadi u) dari ejaan sebelumnya, yang dikenal sebagai Ejaan van Ophuijsen. Rupanya penggunaan Ejaan Suwandi ini bertahan yang ditandai dengan dipertahankannya tj, tidak diubah jadi c, meski ejaan itu tidak digunakan lagi sejak Ejaan Yang Disempurnakan diresmikan pada 1972. Namun, bukan itu yang akan dijadikan topik utama di sini, sebab kami akan fokus pada bandara baru yang sedang dibangun di bagian selatan kota pelajar ini.

Daerah Istimewa Yogyakarta konon adalah provinsi yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, kehalusan bahasa dan seluk beluk sejarah. Yogyakarta juga merupakan pusat pendidikan tinggi dan sebuah kota yang berhasil menarik orang dari setiap sudut di Indonesia supaya terbentuklah sebuah Indonesia cilik. Kata orang, Yogya ini selalu ngangeni. Di lain pihak, Yogyakarta juga sedang menjelma menjadi kota modern yang diisi pusat perbelanjaan dan hotel mewah, dan dengan demikian menjadi kota kemacetan berpolusi tinggi. Sawah-sawah di mana-mana siap dijual supaya gedung apartemen bisa didirikan. Mengingat ini semua, muncullah pertanyaan dalam hati: Nama apa yang bakal dianugerahkan kepada bandar udara baru di Kulon Progo kelak? Unsur kebudayaan atau peristiwa sejarah apakah yang akan dikenang dalam namanya?

Sejujurnya, saya tidak tahu apakah ini nama resmi yang benar-benar akan dipakai pada masa depan atau hanyalah sebuah nama kerja, tapi setiap kali bandara baru ini dibahas, nama yang dipakai adalah New Yogyakarta International Airport. Waduh. Bergengsi, toh? Nginggris pula. Mungkin sebagian orang berargumentasi bahwa sebuah bandara internasional memang semestinya memiliki nama yang internasional pula. Rupanya Soekarno-Hatta baik-baik saja. Begitu pula dengan Ngurah Rai di Bali, yang mematahkan lidah-lidah para bule setiap hari. Menariknya, desain yang akan diterapkan di bandara baru ini dikabarkan akan bersandar berat pada seni dan budaya (dan bahkan ruh) Jawa. Konon, antara lain untuk mengurangi stres pada para pengunjung. Sayangnya, nama bandara tidak ikut dalam pertimbangan ini.

Selain terkesan seolah-olah sama sekali terlepas dari nilai seni, budaya dan sejarah Yogyakarta, nama ini juga mengandung benih kebingungan. Apakah ada kota yang namanya New Yogyakarta? Seperti New York? (Atau New Selo?) Bagi saya, aneh. Yang baru kotanya atau bandaranya? Dan untuk waktu berapa lama sebuah bandara bisa disebut “baru”? Dua puluh tahun kemudian, tempelan “baru” ini akan terasa kusam.

Tambahan lagi, singkatan bandara baru ini (NYIA) bakal mematahkan banyak lidah Jawa. Apakah kode bandara resmi (IATA) atau hanyalah singkatan sementara, saya tidak tahu, tapi mengingat apresiasi umum orang Indonesia terhadap singkatan dan akronim, kita harus antisipasi bahwa singkatan ini akan digunakan pula. Bagaimanapun juga, dalam waktu dekat, saya membayangkan seluruh staf Dinas Pariwisata DIY menari dan menyanyikan NYIA sepanjang Jalan Malioboro, dengan irama dari Village People dan lagu YMCA-nya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>