Siapa yang Aman?
Dikirim pada 31 Agustus 2007 | 1 tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 31 Agustus 2007.]
Perbedaan di antara bentuk pasif dan bentuk aktif merupakan salah satu rintangan terbesar ketika saya mulai belajar bahasa Indonesia 10 tahun lalu. Tahun per- tama saya dan mahasiswa lain hanya memakai kata dasar (Saya baca buku; Dia beli mobil) dan kami menganggap ben- tuk dan sifat bahasa Indonesia ini cukup mudah dipahami.
Warna Orang-Orang
Dikirim pada 20 Mei 2007 | Belum ada tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 20 Mei 2007.]
Belajar nama-nama warna dalam bahasa asing tidaklah selalu terlalu mudah dan sering menimbulkan kesalahan kebahasaan yang bersifat kekanak-kanakan. Terkadang bunyi suatu nama warna terasa lebih pas dengan warna yang tidak sebenarnya. Sebagai contoh, saya dulu merasa bahwa nama biru lebih cocok dengan warna hijau, dan oleh karena itu saya sering mencampurkannya.
Kapan Harus Nginggris?
Dikirim pada 13 April 2007 | 2 tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 12 April 2007.]
Jauh sebelum kami berkunjung di Indonesia beberapa bulan yang lalu, saya sudah memutuskan untuk tak cepat terbawa emosi ketika melihat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris bergaul dengan ria dan liar. Saya sudah yakin pergaulan ini menjadi-jadi dan tak kenal batas kewajaran.
Bahasa Rahasia
Dikirim pada 9 Maret 2007 | 1 tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 9 Maret 2007.]
Setelah lama duduk manis di atas kendaraan yang memuntahkan setidaknya 1,5 ton CO2 per penumpang sekali jalan, kami akhirnya tiba di Jakarta. Capai dan panasnya bukan main. Sebelum bisa melepas lelah sejenak kemudian meneruskan perjalanan ke Jawa Tengah, kami perlu mengurus beberapa hal.
Meja Ramadhan
Dikirim pada 10 November 2006 | Belum ada tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 10 November 2006.]
Dalam beberapa tahun terakhir ini kehadiran agama dan orang Islam di Swedia makin kelihatan di ruang publik. Perempuan berjilbab dan lelaki berpeci tampak di setiap kota. Masjid sudah dibangun di pelbagai tempat. Kehadiran Islam ini paling kelihatan di bulan puasa. Radio Swedia mengadakan acara khusus menyambut Lebaran. Toko pun ikut-ikutan meraih untung dengan menyiapkan pojok khusus Ramadhan yang menggoda selera orang berpuasa.
Bahasa Agama Harus Bahasa Arab?
Dikirim pada 29 September 2006 | 1 tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 29 September 2006.]
Ada ikatan di antara bahasa Arab dan agama Islam yang tak dapat disangkal. Di dalam Alquran sendiri berulang kali dijelaskan bahwa kitab suci ini diwahyukan dalam bahasa Arab supaya umat Islam dapat memahaminya dengan jelas (lihat misalnya Surat 43 ayat 2 dan Surat 12 ayat 2). Supaya kejelasan wahyu Ilahi ini tidak menjadi kabur, maka bahasa Arab juga sudah dijadikan sebagai bahasa ibadah (dengan beberapa perkecualian) dalam agama Islam. Dengan demikian, pembacaan ayat-ayat suci sewaktu salat dilafalkan dengan bahasa Arab (walau KH M Yusman Roy memiliki agenda lain beberapa bulan yang lalu), dan begitu pula dengan doa-doa yang dibacakan imam di masjid setelah salat.
Kaburan Setankah?
Dikirim pada 25 Agustus 2006 | 3 tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 25 Agustus 2006.]
Fatwa ormas Islam terbesar sedunia terhadap acara-acara teve yang menyiarkan gunjingan mengenai para orang ternama di Indonesia, sempat mengacaukan dunia hiburan dan sekaligus dunia keagamaan akhir-akhir ini. Fatwa Nahdlatul Ulama ini diarahkan kepada infotainment, yang dengan demikian menjadi dan dijadikan setan terbaru di negeri ini. Tapi, seperti diketahui, jika ada setan pasti ada pembelanya, yang mengaku itu bukan setan tapi yang lebih terhormat. Sudahlah, itu bukan masalah utama di sini.
Bahasa Swendonesia
Dikirim pada 23 Juni 2006 | Belum ada tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 23 Juni 2006]
Tanpa malu-malu saya menobatkan diri sebagai ahli bahasa Swendonesia, yaitu perpaduan manis antara bahasa Swedia dan bahasa Indonesia. Keahlian ini akhir-akhir ini semakin nyata setelah seorang ahli bahasa Indonesia memeriksa, mencoret, dan mengirim kembali naskah Kamus Swedia-Indonesia yang saya susun. Ia tak bosan-bosan memperbaiki bahasa Swendonesia saya dan mengubahnya menjadi bahasa Indonesia yang (lebih) baik dan benar.
Gayatulis Pram
Dikirim pada 2 Juni 2006 | Belum ada tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 2 Juni 2006.]
Dalam kolomnya di rubrik ini pada 19 Mei lalu, pengamat bahasa Pamusuk Eneste membahas cara-cara Pramoedya Ananta Toer mengeja dan menulis kata-kata yang merupakan intisari karya sastra beliau. Artikel itu antara lain mengarahkan perhatian pada ungkapan baru yang dikedepankan Pram seperti seharmal (sehari semalam) dan sassus (desas-desus), dan juga kepada kebiasaan Pram menulis dua kata secara tergabung dalam satu kata gabungan. Contohnya, terimakasih, orangtua, dan sepakbola. Walau demikian, sejumlah kata tetap ditulis terpisah, misalnya kereta api dan mata sapi. Secara singkat hal itu pernah saya perhatikan pula dalam sebuah tulisan yang dimuat di rubrik ini juga (7 Agustus 2004). Susah atau mustahil mengerti mengapa Pram memilih menulis dengan cara ini.
Murahnya Janji
Dikirim pada 7 April 2006 | Belum ada tanggapan
[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 7 April 2006.]
Saya pernah menyimak iklan sebuah klinik transplantasi rambut yang terpasang di koran ini. Klinik itu menawarkan rambut kepada para orang botak dengan slogan: ”Bukan janji, tapi pasti!” Di koran ini juga seorang pelanggan mengirim surat pembaca yang isinya mengeluhkan pelayanan salah satu bank nasional. Penawaran kartu kredit yang diterima penulis surat itu dianggap ”hanya janji”. Mari kita telusuri kata janji sesaat.
